LAUWA _ BIRING BULU’ TANAH KELAHIRANKU

Kala senja dipagi hari, sebening embun dipucuk daun, cahaya surya berkilau dibalik awan putih, menembus diatara rimbunnya dedaunan, menghangatkan jiwa yang sedang gundah, cahaya pagi membelah ruang kosong di antara kesunyian jiwa, kicau burung yang merdu masih terdengar di mana-mana seakan menyanyikan sebuah syair tentang alam yang begitu indah.
Sepercik kata syair diatas adalah sedikit gambaran tentang kampung halamanku,tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, kehidupan yang serba alami membuat kehidupan orang- orang di sana terasa aman dan tentram. Udara yang ku hirup benar-benar sejuk tanpa ada polusi, memang nama kampungku masih jarang terdengar Orang menyebutnya di kota. “Lauwa, Biring Bulu” Sebuah Kecamatan yang sejuk, asri, indah, dan segalanya, tempat aku lahir dan dibesarkan. Sering aku merindunya.
“Lauwa” adalah kelurahan yang ada di kecamatan “Biring Bulu” Kabupaten Gowa, Sulawaesi Selatan, indonesia. Lauwa dibagi menjadi beberapa Dusun dan Desa, memiliki udara yang sejuk, bahkan dingin. Daerahnya yang berbukit-bukit merupakan penghasil komoditas pertanian terbesar di kabupaten Gowa seperti, jagung, ubi dsb.
Aku memang sekarang aku tidak stay di sana terus, hanya ketika libur kerja saja pulang kampung. Tetapi Nenek,dan seluruh keluarga Ibu dan bapak, masih tinggal di sana, Kembali pada topik di atas, aku akan sedikit menuangkan kerinduan pada Kampung halamanku tercinta . Di lauwa, udara sangat dingin, kabut yang sering datang tanpa diundang. Nah, dengan begitu air menjadi suatu barang yang sangat sejuk di siang hari, dan terasa seperti air es ketika pagi buta dan sore. Konyolnya lagi, aku hingga seusia ini, kalau lagi pulang kampung mandi 1 kali dalam sehari saja sulit bagi aku, mungkin karena aku terbiasa dengan udara yang panas, sehingga air di kampungku terasa air dari kulkas, hehehe. Tidak hanya udara dan air yang dingin yang membuat “lauwa” selalu istimewa bagiku. Pemandangan yang masih hijau dan asri menjadi penenang jiwa yang tiada batasnya. Hamparan kebun kopi, kayu, pisang,bambu, dan sayur-sayuran lainnya sangat memanjakan mata. Di tambah dengan suasana yang tidak bising, dengan kehidupan sosial masyarakat yang masih tertata rapi diselimuti oleh adat-istiadat dan norma kebiasaan yang masih serba tradisional. Membuatku selalu berkeinginan untuk kembali tinggal menetap setelah Kehidupan ini bisa jauh lebih bagus “Ammoteremi tauwwa mange rikamponga” cari terjemahannya di Google” dalam bahasa bugis makassar. Hehehehe……….
Aku berharap Biring Bulu ”lauwa” tetap menjadi tempat yang terindah buat aku sepanjang masa.
Di tulis oleh: Tirta WidjayaBIRING BULU GOWA

Politik Budaya

Oleh : Hikmah Elisah

Politik kebudayaan adalah sebuah tema yang tidak asing lagi untuk diperbincangkan bersama. Untuk menakar makna politik kebudayaan, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu politik, dan apa itu kebudayaan sebagai fondasi awal kita untuk menelaah secara lebih mendalam apa yang terkandung dalam tema politik kebudayaan ini.
Politik dalam pemaknaan kebanyakan orang-orang awam, adalah sebuah kata yang mengandung makna negatif. Makna negatif dalam hal ini adalah politik sering dikaitkan dengan suatu cara atau prosedur yang penuh dengan nuansa-nuansa permainan pihak tertentu, yang mana pihak-pihak tertentu itu memiliki kepentingan dan tujuan pribadi yang hendak dicapai. Kata politik juga sering disamakan dengan tingkahlaku para pejabat yang melakukan korupsi, penyogokan, dan perampasan hak milik orang lain secara licik. Ini adalah pandangan sementara yang mendominasi pemahaman orang-orang awam pada umumnya.
Secara umum, politik sebenarnya mempunyai arti yang sangat luas mengandung multiinterpretasi. Politik tidak bisa dimaknai secara tunggal, sebab jika dimaknai secara tunggal, maka akan mereduksi maknanya yang sangat luas itu. Secara sederhana, politik adalah sebuah cara, prosedur, atau strategi untuk mewujudkan tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan Kebudayaan adalah bentuk interaksi individu yang menghasilkan seperangkat nilai, norma, dan tradisi dalam masyarakat. Terkait dengan tema diatas “politik kebudayaan”, maka bisa kita tarik sebuah pendefinisian bahwa politik kebudayaan adalah sebuah cara, prosedur atau strategi untuk melakukan tinjauan ulang dalam rangka penguatan serta pengembalian kembali seperangkat nilai, norma dan tradisi yang dinilai telah mengalami pergeseran dan kemunduran. kebudayaan mencerminkan jati diri masyarakat yang berbudaya. Karena dia adalah pencerminan jati diri suatu masyarakat, maka ketika ada pergeseran dan kemunduran dalam pemaknaan serta aktualisasi kebudayaan tersebut, maka dibutuhkan sebuah cara dan strategi untuk mengembalikannya pada asal mula kedudukannya. Disinilah kita membutuhkan politik.
Mari kita menoleh sejenak bagaimana konteks ke Indonesiaan. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang multikultural. Kita memiliki bermacam-macam suku, kebudayaan sampai pada corak pemikiran yang sangat beragam. Bhineka Tunggal ika memberikan pesan pada kita bahwa walaupun kita berbeda-beda namun tetap satu. Dari sabang sampai merauke terlihat jelas kemajemukan yang khas yang dimiliki bangsa kita, namun yang mempersatukan kita adalah kita sebagai bangsa Indonesia yang satu, dengan bahasa yang satu, tanah air satu serta memiliki satu falsafah hidup yang tersermin dalam 5 poin pancasila. Pancasila itu sendiri hadir sebagai bentuk partisipasi aktif beberapa kalangan untuk mencoba mengakomodasi perbedaan-perbedaan indetitas itu.
Namun adalah sebuah permasalahan kita secara bersama bahwa Kecenderungan orang-orang Indonesia secara umum hanya sampai pada mengetahui bahwa memang ada banyak perbedaan antara kita. Tidak ada upaya lanjut untuk mengakomodasi segala perbedaan demi kemaslahatan bersama. Disinilah peran penting kita sebagai kaum intelektual dan pemerintah secara khusus untuk begaimana mengakomodasi perbedaan identitas itu, mengingat kita kini sedang berada dalam sebuah sistem besar yakni sistem kapitalisme. Kapitalisme bukan hanya berputar pada penumpukan modal semata, namun lebih dari itu yakni merubah paradigma berpikir suatu masyarakat. Bagaimana caranya kapitalisme merubah paradigma berpikir masyarakat kita? Yakni dengan cara menghegemoni masyarakat melalui salah satu pahamnya yakni konsumerisme. Konsumerisme adalah sebuah paham yang senantiasa melandasi hidup diatas satu semboyan yakni hidup untuk konsumsi. Puncak kebahagiaan tertinggi ada pada bagaimana hidup ini selalu dipenuhi nuansa konsumsi sebesar-besarnya tanpa batas. Pencapaian-pencapaian kapitalisme dalam menggencarkan pengaruhnya terlihat jelas dengan bagaimana ia berhasil merekonstruksi pola hidup masyarakat kearah konsumsi tingkat tinggi. Konsumen tidak terorganisasi sehingga tidak mampu membangkitkan perlawanan struktural terhadap komersialisasi gaya hidup. Konsumsi menggantikan norma sosial dalam perannya sebagai mesin integrasi dan regularisasi masyarakat (J Baudrillard, 1970).
Sebagai akibat dari pola hidup seperti ini,maka bermunculan orientasi hidup individualis. Hanya peduli pada kebahagiaan sendiri membuat kesejahteraan bersama diabaikan. Individualis yang erat kaitannya dengan narsisisme dalam analisisnya membutuhkan perantara, yaitu model. Model selebritis misalnya diciptakan media massa adalah sebuah pencitraan gaya hidup yang akan menjadi contoh untuk masyarakat banyak. Pencontohan gaya hidup inilah yang kemudian membudaya dikalangan masyarakat kita. Budaya yang oleh JWM Bakker, 1984, adalah Cakupan budaya yakni aspek normatif, kaidah etika, pembinaan nilai, dan perwujudan cita-cita serta mengarahkan dan membentuk tata hidup, perilaku, etos suatu masyarakat, kini tidak mendapat tempatnya lagi. Budaya dalam konteks kekinian tak lebih hanyalah seonggok materi yang akan memuaskan kebutuhan dan hasrat hidup masyarakat.

Ketahuilah bahwa ketika masyarakat diperlakukan sebagai konsumen untuk kepentingan kapitalisme, maka karakter yang terbentuk adalah menjadikan masyarakat sangat individualis. Masyarakat hanya kenal satu pola hubungan, yaitu persaingan dan individualistis. Akibatnya, stres tinggi, gelisah, kolega dianggap pesaing. Maka, solidaritas masyarakat melemah. Dan teranglah bahwa individualisme melemahkan solidaritas. Solidaritas sebagaimana bahasa para ahli adalah sebuah semangat kebangsaan yang mampu menjadi senjata melawan hegemoni budaya luar yang cenderung menciptakan invidualisme. Ketika solidaritas digeser oleh invidualisme, maka nilai luhur kebudayaan kita jelas akan lenyap.

Sedangkan kebijakan publik yang menekankan ekonomi rentan konflik karena memihak yang kuat. Saat hubungan kekuatan menentukan arena sosial, pembelajaran untuk menerima perbedaan tak dipedulikan lagi. Lalu, aneka institusi sosial cenderung menghasilkan diskriminasi.

Maka dalam hal ini, penting memiliki visi kebudayaan. Ada empat alasan mengembangkan politik kebudayaan (L Bonet, 2007). Pertama, nilai strategis budaya sebagai penyebar standar simbolis dan komunikatif. Kedua, perlunya menempa identitas kolektif. Ketiga, politik kebudayaan berdampak positif pada ekonomi dan sosial karena mengembangkan kreativitas. Keempat, perlu memelihara kekayaan kolektif (budaya, sejarah, tradisi, dan seni). Keempatnya mengandaikan penerimaan keragaman masyarakat.

Arah Politik Multikultural

Arah politik multikultural ialah ”pengakuan keberagaman budaya yang menumbuhkan kepedulian agar berbagai kelompok yang termarjinalisasi dapat terintegrasi, dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya agar kekhasan identitas mereka diakui” (W Kymlicka, 2000).

Rumusan ini mengandung tiga unsur, yaitu identitas, partisipasi, dan keadilan. Identitas terukir dalam menerima keberagaman budaya dan agama. Kekhasan mengafirmasi dalam perbedaan. Dengan menjawab kebutuhan identitas, lahir penghargaan diri sehingga memperkuat komitmen terhadap kolektivitas. Politik multikultural mau memastikan jaminan itu terwujud dalam kebijakan publik dan sistem hukum sehingga cita-cita etika politik terwujud ”semakin memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusiinstitusi yang adil”. Institusi adil bila inklusif. Maka, undang-undang/peraturan tidak boleh diskriminatif. Legislasi bisa menjadi alat pelembagaan diskriminasi dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan jabatan. Diskriminasi hukum terjadi bila negara terlalu melegalisasi pelarangan norma moral. Masyarakat berhak mencegah anggotanya merugikan pihak lain. Namun, orang bisa mempertanyakan bila pencegahan diartikan menerapkan keseragaman dengan ukuran moral kolektif. peraturan yang diskriminatif memperparah segregasi sosial.

Membangun budaya inklusif

Bangsa mengandaikan, pertama, acuan ke budaya inklusif termasuk sistem gagasan, etos, cara bertindak, dan komunikasi; kedua, bangsa akan kuat bila anggota-anggotanya saling mengakui hak dan kewajiban masing-masing karena status sama (E Gellner, 1983). Kedua syarat ini memungkinkan terciptanya bangunan keyakinan, loyalitas, dan solidaritas anggotanya. Peraturan yang diskriminatif berarti tidak mengakui kesamaan hak dan kewajiban warga negara. Empat sasaran politik multikultural: pertama, membentuk habitus toleransi, keterbukaan,
dan solidaritas. Pertaruhannya bukan hanya mengelola warisan budaya, seni, dan bahasa, tetapi juga masalah konservasi, pendidikan, dan kreasi. Kedua, membangun artikulasi politik dan multikulturalisme guna menciptakan ruang publik agar beragam komunitas berinteraksi untuk memperkaya budaya dan memfasilitasi konsensus. Dampaknya, frekuensi perjumpaan berbagai kelompok berbeda tinggi dan kategori masyarakat yang ambil bagian dalam keputusan kolektif diperluas. Ketiga, untuk mengimbangi kebijakan ekonomi yang teknokratis, multikulturalisme
mengusulkan sistem baru representasi dan partisipasi. Sistem ini memerhatikan aspirasi budaya, pada gilirannya mengembangkan kapital sosial. Kapital sosial berakar pada jejaring asosiasi dan civisme, yang merupakan tanah subur bagi kesadaran akan makna tanggung jawab kolektif (J Subirats, 2008:61). Kapital sosial, faktor kohesi sosial berkat hubungan kepercayaan, membuat politik lebih peduli solidaritas dan kesejahteraan bersama. Keempat, penataan ruang publik menyangkut tiga aspek, yaitu fisik-sosial, budaya, dan politik. Dari fisik-sosial, perlu dikembangkan bentuk baru permukiman, tata kota, atau perencanaan teritorial agar menghindari segregasi sosial atas dasar etnik atau agama (T Bennett, 2008:23). Dari budaya, pemerintah harus menjamin dimensi multikultural dalam ekspresi di ruang publik, seperti seni, teater, musik, film, sastra, dan olahraga. Maka, pemerintah wajib mendorong pengelola media massa agar peduli pada dimensi multikultural dengan insentif subsidi atau keringanan pajak. Dari politik, kebijakan publik perlu memasukkan program representasi minoritas dalam politik, pendidikan, dan lapangan kerja.

Jadi, untuk menakar politik kebudayaan, maka sangat dibutuhkan peran pemerintah. Dalam hal ini, Partisipasi budaya, toleransi dan pengakuan akan keberagaman identitas, intensitas interaksi antara kelompok-kelompok yang berbeda, peran serta beberapa institusi dalam hal ini media dalam mengekpos segala aktifitas budaya, serta pembukaan regulasi yang adil, maka kebudayaan kita akan senantiasa berkembang dan menjadi cerminan jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya dan beradab. Dengan politik kebudayaan, akan mengangkat kembali keunikan dan kekhasan budaya kita yang terkenal multikultural. Politik kebudayaan juga akan mampu menjadi filter terhadap hegemoni budaya-budaya yang datang dari luar dan sebagai penyeimbang kebijakan ekonomi yang teknokratis.
Di Postkan : Bayhu Amatory
Sebagian sumber dari : Cetak. kompas.com

“Hasil Kajian Muqaddimah Community”
Oleh : Hikmah Elisah

Media Tempat Mencari Solusi

Kehadiran media massa baik itu media elektronik,cetak dan online,telah banyak membuat orang dapat di kenal sampai sejagat raya, melalui mediapun orang dapat berbagi informasi sampai kebelahan dunia, media massa telah menjadi tempat untuk berbagai peristiwa. dengan mudahnya kita ketahui tanpa ada batas jarak dan waktu. Berbagai perkembangan peristiwa bisa kita akses melalui media massa.

Di era globalisasi sekarang ini, media massa dengan mudah kita dapati, bahkan peran media sebagian orang sudah menjadi suatu kebutuhan yang tak dapat di pisahkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kehadiran media massa sudah menjadi alat pengambilan suatu solusi dalam pokok persoalan sehari-hari.

Tidak salah jika media itu di katakan guru yang paling loyal terhadap siswanya, selalu ada disaat kita butuh, selalu siap menemani kita di manapun berada. Kehadiran media massa telah banyak memberi perubahan, terutama dalam memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan.

Bahkan kehadiran media perlu kita acungi dua jempol, sebab medialah yang banyak membuat seseorang bisa dengan cepat mendapatkan suatu pencitraan yang positif,

Mungkin kita tidak akan pernah tau artis belahan-belahan dunia jika itu bukan peran media massa, bahkan tidak terhitung lagi orang yang tenar lewat dunia massa, mungkin kita tidak tau siapa itu Norman Kamaru,Shinta-Jojo,Briptu Saiful Bahri serta artis yang lain, yang tenar lewat media massa. Makanya itu kehadiran dunia massa pantas mendapatkan tempat khusus di hati Pencintanya.

Seiring pemberitaan media tersebut, ada citra yang akan menempel pada orang yang diberitakan, baik citra positif maupun citra negatif. Tinggal bagaimana berita yang disampaikan serta tergantung bagaimana anda menyikapinya.

Bukan hanya segelintir orang saja yang bisa tenar di dunia massa tetapi kelompok, lembaga, organisasi, dan perusahaan bisa menjadi mendadak tekenal dan mempunyai citra baik atau negatif melalui pemberitaan media massa.

Pembentukan Citra positif dan negati seseorang atau lembaga itu tergantung juga pada sekelumit orang-orang di lembaga tersebut, meski pemberitaan media itu jelek, tetapi orang atau lembaga tersebut mempunyai kredibilitas yang tinggi, maka pemberitaan tersebut hanya seperti angin yang lalu, paling tidak berita itu akan membangun kesan motifasi terhadap orang-orang di dalamnya, “sebab dalam psikologi komunikasi ada psikologi komunikator, dimana seseorang yang mempunyai kredibilitas dan ethos yang tinggi dan hal ini juga sudah menjadi social judgement (penilaian sosial), maka pemberitaan miring pada seseorang tersebut tidak akan mengakibatkan “Cacat Psiklogi,” karena realitas yang sesungguhnya mengalahkan realitas kedua (second hand reality) yang mau dibuat oleh media massa.

Coba kita berkaca kepada Isu nikah Siri yang melanda penyanyi Raja Dangdut H.Rhoma Irama dengan Angel Elga merupakan contoh kasus yang tidak mempengeruhi pamor, citra dan reputasi keduanya. Ini tidak lepas dari kredibiltias dan ethos yang dimiliki oleh kedua tokoh ini.

Citra dan reputasi positif yang dibangun melalui media massa akan terbentuk secara alami dan bertahan dalam jangka waktu yang lama, maka dari itu citra dan reputasi seseorang merupakan dua hal yang tidak mudah dikonstruk tanpa melalui tindakan nyata. Kesimpulannya jangan pernah takut dengan pemberitaan media yang anda anggap miring sebab reputasi yang anda bangun selama bertahun-tahun saya yakin sulit mengalahkan Gosip yang Cuma hadir sehari, tanpa di barengi suatu bukti yang nyata. Oleh : Tajuddin Asiz: Direktur Media & Publikasi Indeks Politica Indonesia (IPI)

Mei 24, 2012 Tinggalkan Komentar

Kehadiran media massa baik itu media elektronik,cetak dan online,telah banyak membuat orang dapat di kenal sampai sejagat raya, melalui mediapun orang dapat berbagi informasi sampai kebelahan dunia, media massa telah menjadi tempat untuk berbagai peristiwa. dengan mudahnya kita ketahui tanpa ada batas jarak dan waktu. Berbagai perkembangan peristiwa bisa kita akses melalui media massa.

Di era globalisasi sekarang ini, media massa dengan mudah kita dapati, bahkan peran media sebagian orang sudah menjadi suatu kebutahan yang tak dapat di pisahkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kehadiran media massa sudah menjadi alat pengambilan suatu solusi dalam pokok persoalan sehari-hari.

Tidak salah jika media itu di katakan guru yang paling loyal terhadap siswanya, selalu ada disaat kita butuh, selalu siap menemani kita di manapun berada. Kehadiran media massa telah banyak memberi perubahan, terutama dalam memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan.

Bahkan kehadiran media perlu kita acungi dua jempol, sebab medialah yang banyak membuat seseorang bisa dengan cepat mendapatkan suatu pencitraan yang positif,

Mungkin kita tidak akan pernah tau artis belahan-belahan dunia jika itu bukan peran media massa, bahkan tidak terhitung lagi orang yang tenar lewat dunia massa, mungkin kita tidak tau siapa itu Norman Kamaru,Shinta-Jojo,Briptu Saiful Bahri serta artis yang lain, yang tenar lewat media massa. Makanya itu kehadiran dunia massa pantas mendapatkan tempat khusus di hati Pencintanya.

Seiring pemberitaan media tersebut, ada citra yang akan menempel pada orang yang diberitakan, baik citra positif maupun citra negatif. Tinggal bagaimana berita yang disampaikan serta tergantung bagaimana anda menyikapinya.

Bukan hanya segelintir orang saja yang bisa tenar di dunia massa tetapi kelompok, lembaga, organisasi, dan perusahaan bisa menjadi mendadak tekenal dan mempunyai citra baik atau negatif melalui pemberitaan media massa.

Pembentukan Citra positif dan negati seseorang atau lembaga itu tergantung juga pada sekelumit orang-orang di lembaga tersebut, meski pemberitaan media itu jelek, tetapi orang atau lembaga tersebut mempunyai kredibilitas yang tinggi, maka pemberitaan tersebut hanya seperti angin yang lalu, paling tidak berita itu akan membangun kesan motifasi terhadap orang-orang di dalamnya, “sebab dalam psikologi komunikasi ada psikologi komunikator, dimana seseorang yang mempunyai kredibilitas dan ethos yang tinggi dan hal ini juga sudah menjadi social judgement (penilaian sosial), maka pemberitaan miring pada seseorang tersebut tidak akan mengakibatkan “Cacat Psiklogi,” karena realitas yang sesungguhnya mengalahkan realitas kedua (second hand reality) yang mau dibuat oleh media massa.

Coba kita berkaca kepada Isu nikah Siri yang melanda penyanyi Raja Dangdut H.Rhoma Irama dengan Angel Elga merupakan contoh kasus yang tidak mempengeruhi pamor, citra dan reputasi keduanya. Ini tidak lepas dari kredibiltias dan ethos yang dimiliki oleh kedua tokoh ini.

Citra dan reputasi positif yang dibangun melalui media massa akan terbentuk secara alami dan bertahan dalam jangka waktu yang lama, maka dari itu citra dan reputasi seseorang merupakan dua hal yang tidak mudah dikonstruk tanpa melalui tindakan nyata. Kesimpulannya jangan pernah takut dengan pemberitaan media yang anda anggap miring sebab reputasi yang anda bangun selama bertahun-tahun saya yakin sulit mengalahkan Gosip yang Cuma hadir sehari, tanpa di barengi suatu bukti yang nyata. Oleh : Tajuddin Asiz: Direktur Media & Publikasi Indeks Politica Indonesia (IPI)

Di Saat Kejujuran Tak Lagi Bisa Di Percaya

Setiap orang butuh kejujuran untuk dapat di percayaan kepada orang lain atau sebaliknya. Tetapi tahukah Anda ketika kejujuran itu tidak lagi bisa dipercaya ?

Tanpa Kita sadari atau tidak, butuh banyak pengorbanan untuk menumbuhkan suatu kejujuran dari dalam diri untuk diungkapkan. Kejujuran bagi sebagian orang bak sebilah pisau, yang tajam yang tidak menyukai sesuatu yang akan membongkar aib seseorang, dan bisa jadi merupakan anugerah terindah bagi sebagian orang lainnya.

Dalam kondisi tertentu kejujuran itu memang harus sengaja ditutupi sebelum diungkapkan kepada orang lain, tapi tidak untuk selamanya ditutup-tutupi. Mengapa demikian ? kejujuran butuh penguatan hati untuk mempersiapkan diri, untuk berani menanggung konsekuensi dari apa yang akan diungkapkannya. Tidak jarang dan sering terjadi ketika kejujuran itu lebih menyakitkan bagi sebagian orang yang tidak siap menerima kenyataan yang sebenarnya.

Ketika Anda sudah dipercaya oleh seseorang, setidaknya Anda akan membutuhkan kejujuran dari orang Lain, dan Anda dianggap telah jujur dengan orang yang mempercayai Anda. Dan ketika ketidak jujuran Anda diketahui oleh orang yang bersangkutan apa yang akan terjadi ?, Anda dapatmenyimpulkan sendiri. Tetapi tahukah Anda mengapa itu terjadi

Tapi sering kejujuran itu, tidak lagi jadi suatu hal yang dapat di percaya, karna kebohongan di masa lalu yang pernah kita lakukan.

Maka berusahalah untuk selalu jujur agar kita bisa dipercayai oleh orang. Tapi tidak semua kejujuran dapat diungkapkan, jadi tetaplah tersenyum jika Anda sudah berusaha untuk jujur, meski itu tidak lagi di percaya “Sebab itulah arti sebuah kejujuran.

Perempuan Adalah Almamater. Oleh: A.Sri Wulandani T

Dewasa ini, fenomena remaja yang terjebak pada arus modernisasi membuat mereka kehilangan makna diri yang sesungguhnya. Tampilan yang ada hanyalah artifisial-artifisial belaka. Faktor eksternal lebih dipercaya daripada faktor internal dirinya. Sistem dan trend modernisasi lebih dimaklumkan daripada keyakinan-keyakinan dari orangtuanya.
Modernisasi sebagai efek globalisasi telah membawa nilai-nilainya sendiri dan masuk ke Indonesia. Melalui media, trend modernisasi menghegemoni gaya hidup masyarakat. Mengaburkan batasan keinginan dan kebutuhan.Dan yang paling terkena imbas dan pengaruhnya adalah anak-anak kita. Bagaimanapun juga, lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap watak dan karakter manusia, terkecuali telah ada pendidikan dasar dini yang ditanamkan kepada para remaja kita di keluarganya yang dilakukan oleh orangtua, khususnya ibu.
Kaburnya batas nilai yang baik dan buruk telah merapuhkan pegangan kebenaran seorang remaja yang mana merupakan seorang manusia yang sementara bertumbuh. Kriminalitas, budaya bebas, dan kemalasan merupakan efek dari pudarnya pemahaman hakikat nilai yang luhur, dimana nilai-nilai luhur tersebut dipegang erat oleh orangtua kita. Sebagai masyarakat timur, kita memiliki adat da nilai yang kuat yang mengedepankan budaya malu dan tanggungjawab serta nilai
luhur lainnya.
Apakah ini karena rapuhnya metode pendidikan orangtua atau karena pengaruh sistem yang terlalu dominan atau karena kerjasama antara keduanya? Tentunya sebagai perempuan yang menjadi pilar negara, harus jeli melihat ini dan menjadi pelopor menuju perubahan. Revolusi paling signifikan yang dapat dilakukan oleh perempuan dalam mencetak kulaitas manusia adalah menjadi seorang ibu.
            Revolusi peran perempuan menjadi seorang ibu adalah hal yang paling indah sekaligus merupakan anugerah bagi perempuan, karena di samping secara biologis perempuan telah melahirkan seorang anak, perempuan juga mengemban amanah yang sangat mulia yaitu mendidik seorang manusia. Keutamaan perempuan adalah karena manusia telah dididiknya sejak dalam kandungan atau di dalam rahim, yang mana.rahim adalah keistimewaan perempuan yang diberikan oleh Allah SWT.
Sebagai seorang ibu, perempuan memiliki kesempatan emas untuk membentuk seorang manusia sebaik-baiknya. Secara biologis, psikis, dan spiritual, perempuan memiliki peran besar membentuk seorang manusia. Ibu memiliki peran yang paling besar sejak seorang anak dalam rahim hingga terlahir ke dunia. Inilah peran dan fungsi seorang ibu sebagai alma mater.
Alma mater, dari bahasa Yunani Kuno, mengandung arti ibu yang memberikan ilmu.Selama ini alma mater lebih dilekatkan pada simbol-simbol institusi pendidikan tinggi, semisal universitas dan sekolah-sekolah tinggi lainnya. Pemaknaan yang lebih luas memberikan kita pemahaman bahwa alma mater tidak hanya sesempit simbol-simbol institusi pendidikan tinggi semata.
Ibu sebagai alma mater  memberikan kita pemahaman bahwa alma mater sejati adalah seorang ibu. Ketika di dalam kandungan, segala hal yang dilakukan ibu, tentu akan berpengaruh terhadap bayinya, apalagi ketika seorang anak telah lahir. Pendidikan sejak dini terhadap anak dilakukan ibu dengan cara komunikasi. Melalui komunikasi yang baik, anak akan terbentuk menjadi pribadi yang sehat.
Sejak dalam kandungan, apalagi ketika anak telah lahir, anak wajib dibiasakan mendengarkan kata-kata dan kalimat-kalimat yang baik, karena segala pernyataan yang diucapkan oleh ibu akan tertanam kuat di memori anak. Ketika masih bayi, mungkin kita berpikir anak belum mengetahui apa-apa, ini adalah pemahaman yang keliru, karena sesungguhnya bayi telah menyimpan segala hal yang dibiasakan ibunya.
Seorang anak yang telah tumbuh, hingga beranjak remaja, akan mudah meneladani hal-hal yang ditunjukkan oleh orangtuanya daripada hal-hal yang diucapkan oleh orangtuanya. Ini berarti orangtua, terlebih kepada ibu yang memiliki banyak waktu luang bersama anaknya, harus melakukan apa yang diucapkan dan mengucapkan apa yang dilakukan. Tidak mendidik anak dengan kebohongan.
Mendidik anak dengan prinsip dan nilai-nilai kebenaran akan membentuk seorang anak yang beretika dan berbudi pekerti. Ini juga akan mengajarkan anak secara tidak langsung akan tanggung jawab sebagai konsekuensi kedisiplinan dalam menganut nilai yang telah ditanamkan ibunya. Beranjak dewasa anak akan terbentuk menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter tangguh di segala zaman.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Untuk itu, peran ibu sangat besar di samping peran guru di sekolahnya. Ibu adalah guru di rumah bagi anak dan guru adalah ibu di sekolah bagi anak. Sehingga tujuan dari pendidikan sebenarnya sinergis yaitu membangun kualitas manusia. Untuk itu sistem pendidikan humanis adalah sebuah keniscayaan, baik di rumah maupun di sekolah-sekolah formal.
Dalam Buku Sekolahnya Manusia, karya Munif Chatib, dikatakan bahwa kecerdasan seseorang tidak mungkin dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam achievement test (tes formal). Sebab setelah diteliti, ternyata kecerdasan seseorang itu selalu berkembang (dinamis), tidak statis. Tes yang dilakukan untuk menilai kecerdasan seseorang, praktis hanya menilai kecerdasan pada saat itu, tidak untuk satu bulan lagi, apalagi sepuluh tahun lagi. Menurut Dr. Howard Gardner, kecerdasan dapat dilihat dari kebiasaan seseorang. Padahal  kebiasaan adalah perilaku yang diulang-ulang.
Kebiasaan atau perilaku yang diulang-ulang yang dilakukan seorang anak tentunya diadopsinya dari orangtua dan lingkungannya. Oleh karena itu, ibu dan orangtua pada umumnya wajib mendidik anak dengan kebiasaan-kebiasaan baik dan sehat bagi mental anak. Sebab anak yang tumbuh dengan didikan yang baik akan memiliki keyakinan bahwa hidup ini indah dan membuatnya semangat untuk hidup,sedangkan anak yang dididik dengan dididikan yang tidak baik akan tumbuh dengan keyakinan yang buruk bahwa hidup ini hanyalah rintangan yang begitu berat.
Dengan didikan yang baik dari ibu, maka dimanapun anak berada akan mampu menyaring apa yang benar, apa yang salah, apa yang baik, apa yang buruk. Serta menjadi pribadi yang cerdas. Sesungguhnya pribadi yang cerdas bukanlah pribadi yang membuat otaknya seperti ensiklopedia, tempat hafalan segala sesuatunya. Tetapi, pribadi yang cerdas adalah pribadi yang mampu membawa otaknya ke hal-hal yang baik. Bahwa kecakapan sikap mental adalah 90% kecerdasan. Betapa sikap itu penting, yaitu bagaimana menyikapi apa-apa yang ada di luar diri denga baik
Pendidikan adalah sesuatu yang sederhana tapi signifikan.

Oleh: A.Sri Wulandani T. Direktur Survei & Real Quick Count Indeks Politica Indonesia (IPI) & Latin Institute (Latompi Indonesia)

Oleh : Direktur Survei Dan Real Quick Count {IPI} Indeks Politica Indonesia Dan Latin Institute {LI} A. Sri Wulandani T.

Puisi Buat Ayah Dan Ibu Tersayang

Pandangan penuh harapan kedua matamu terarak dalam kehidupan nyataku
Nada lirih suaramu menggema melewati celah – celah nadi jantungku
Semua alur lembayu masa kecilku bersamamu
Lebih berharga  dari butiran berlian yang terkapar di lautan

Surai ketulusanmu berkilau dalam setiap langkah yang kau jejakkan
Kelembutan setiap belai kasihmu menjurai bak mutiara di atas daun – daun yang terhembus
Dengan senduan melodi – melodi indahmu membuat setiap ingatanku hanya tertuju padamu

Ibu, kau bagai intan berlian anugrah Tuhan, sebagai takdir yang menghiasi kecantikan ragaku
Tak ada yang mampu lebih berharga selain padamu
Ayah, tetaplah kau menjadi karang dilautan yang tak lekang akan kikisan waktu,
menjaga hatiku yang telah rapuh
Yang selalu mengais setiap kegelisahanku karena deburan ombak yang menggebu

Ukiran denyut nadi jantungmu tlah terpahat dalam kalbu
Takkan lepas, takkan goyah walau maut tlah melambai tersenyum kepadaku
Lukisan keindahanmu tutur kata mu, tlah membungkam rasa yang kelabu
Melantunkan nada – nada indahmu melewati semua kisah senduku

Betapa bahagiaku, Ibu
senyummu menepis rongga – rongga gundahku
Takkan ku biarkan ketegaranmu layu dicela rayuan busukku

Dan atas ragamu, ayah
Urat nadimu tlah menyokong rasa lelahku,
Karena kau…
Menjadi hembusan semilir kehidupan yang mengalir dalam setiap desahan nafasku

Aku ingin menjadi sepasang mata bagimu
Aku ingin menjadi tumpuan kedua kaki mu
Agar aku dapat bersamamu di setiap jejak langkah menyusuri lorong kehidupan
Aku ingin menjadi lilin kecil diantara ribuan bintang
Agar aku mampu merubah mata indahmu menjadi seberkas cahaya rembulan yang terang dalam keremangan malam

bayuamatory

http://www.puisionline.com

Menelusuri Jejak Keseharian Warga Kajuara Desa Mallahae

Disaat aku menapaki jejak budaya yang ada di Kecamatan Kajuara, banyak hal yang berbeda yang aku temui dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya, sebab daerah ini tergolong daerah yang masih mempertahankan adat istiadatnya turun temurun, kepercayaan tentang mitos-mitos alam yang masih kental,maka inilah yang membuat daerah ini berbeda dengan daerah yang ada di Kabupaten lain, diKecamatan Kajuara desa Mallahae misalnya, dalam sebuah acara hajatan/syukuran di daerah ini masih sangat kental mempertahankan rasa kebersamaan dengan warga yang lainnya, seperti, disaat ada warga yang membuat hajatan/syukuran habis panen padi, akan mengundangan warga terdekat untuk makan bersama, tetapi sebalumnya dilakukan dulu ritual pembacaan doa sambil bakar Dupa oleh orang yang sudah berpengalaman yang selama ini telah di percaya, tujuan ritual ini adalah meminta sesuatu keberkahan dari para leluhurnya, dan persembahan makanan kepada keluarga yang telah meninggal,begitupun juga dengan acara-acara lainya, ritual-ritual seperti ini tetap di pertahankan, itulah warga tetap setia mempertahankan hal-hal seperti ini,sebab sebagian besar masyaraknya masih sangat mempercayai dengan hal-hal mistik, misalnya sesuatu benda yang di anggap keramat, atau sesuatu tempat yang masih disakralkan, serta labih banyak mengkaitkan sesuatu kejadian sehari-hari melanda warga setempat dengan hal-hal mistik yang ada di kampung, semisal ada orang sakit warga lebih banyak mempercayai kalau itu adalah perbuatan mahluk yang di anggap menakutkan dengan kata lain ”Parakang”ataupun mengaitkan tentang suatu tempat yang di sakralkan bahwa si orang itu sakit karna di ganggu oleh penjaganya, ataupun mengaggap dia telah di ganggu oleh roh para leluhurnya, “keluaraga yang telah meninggal”meski hal ini sangat bertengtangan dengan ajaran Islam yang sengguhnya, bahwa seorang mulim tidak boleh mempercayai sesuatu benda itu, kecuali kepada allah swt, karna di anggap Musyrik. Dan hal ini sudah manjadi tradisi turun temurun. Sepertinya tidak lengkap sesuatu keseharian jika tidak di kaitkan dengan hal mistik, begitupula dengan sebuah hajatan,tidak lengkap jika tidak melakukan sebuah ritual. “Pembacaan do’a kepada leluhur serta bakar dupa.”

Namun hal yang paling menonjol kehidupan sehari-hari di daerah ini adalah perbedaan starata sosial masyarakanya, dimana masih berbeda dengan orang keturunan Bangsawan (Petta,Puang) dengan orang biasa, orang Bangsawan (Petta,Puang) itu cenderung mendapatkan perlakuan istimewa di bandingkan dengan warga biasa, misalnya dalam sebuah acara undangan hajatan, Petta & Puang-puang mendapat tempat yang lebih istimewa duduk di baris paling atas, ataupun suguhan tempat makan dan minum yang berbeda, piringnya berbentuk mangkok mempunyai pelapis serta tempat minum “cangkir”  yang mempunyai penutup lebih besar dari warga biasa. Bahkan kita bisa membedakan dari setelan barpakain orang bangsawan di saat menghadiri hajatan, pada umumnya pria yang sudah berkeluarga menggunakan setelan jas dengan sarung dilengkapi dengan peci di kepala.

Kita juga bisa membedakan dari bangunan fisik Rumah para Petta,Puang didepan rumahnya pada umumnya menggunakan baruga yang berbentuk rumah mungil dengan atap yang berbentuk prisma di sebut dengan “timpa laja” begitupun juga dengan bangunan rumah atapnya berbentuk prisma di sebut juga dengan “timpa laja” . (tajuddin)

 

Cinta Itu Harus Memiliki_Tips

Cinta tak harus memiliki, Demikian syair sebuah lagu. yang jelas ini adalah kisah cinta yang tak kesampaian, entah karena cinta tak berbalas,atau keinginannya tak tercapai, maupun dua insan yang saling mencintai tapi terpaksa tak bisa bersatu. Apakah di antara Anda ada yang mengalami kasus mencintai tapi tak memiliki? Pendapat saya, mencintai harusnya memiliki. Kalau tidak bisa dimiliki,  Jangan dicintai. Baik.., agar lebih netral, boleh mencintai tanpa memiliki, tapi cintailah apa yang anda miliki. Banyak terjadi pasangan muda mudi yang diam-diam masih berselingkuh hatinya,entah pada pasangan lamanya, atau dengan cinta pertamanya, yang jelas salah satu dari mereka masih memendam rasa cinta yang amat dalam kepada cinta sejatinya. Hatinya masih terus terbayang dan mengingat masa lalunya. Sementara mungkin yang sedang ia ingat itu tidak balas mengingatnya sedikitpun. Sebaliknya, pasangan yang kini dimiliki dan memiliki, justru tidak mendapat cinta yang penuh. Bayang-bayang masa lalu masih melekat dalam hatinya,ia masih belum bisa melupakan kenangan yang indah dengan sesuatu, bagaikan beban berat di punggung yang tak bisa dilepaskan,

Bila anda mencintai seseorang, kemudian gagal memilikinya, relakan saja. Punahkan cintamu itu dan arahkan kepada yang bisa engkau miliki. Kemampuan melepaskan apa yang luput dan hilang darimu adalah bagian dari keimananmu kepada Tuhan. Pantaskah kita menganggap apa yang terbaik bagi kita adalah hal yang luput itu? Mengapa tidak kita, syukuri apa yang diberikan-Nya kepada kita?

Mencintai sesuatu yang tidak dimiliki sebenarnya adalah tindakan yang buruk,adalah proses pembodohan terhadap diri kita, karena menguras pikiran kita, ujung-ujungnya akan menimbulkan sakit hati yang berkepanjangan, dan akhirnya timbul perasaan sulit untuk mencintai lagi terhadap sesuatu, padahal disisi lain masih banyak hal yang menunggu untuk di cintai, kita harus sadar bahwa cinta yang memiliki itu, tidak datang dari sebatas pandangan mata saja, serta ciuman dan pelukan, tapi lahir dari sebuah hati yang tulus, yang dapat menerima kekurangannya, Cinta itu memerlukan perasaan dan pikiran.  Karena itulah yang terbaik adalah saling mencintai, suatu kondisi yang bisa saling memberi, saling mengerti satu dan yang lainnya dari semua kekurangan yang sama-sama di miliki, bukan semata melihat fisik dan bentuknya atau karna kelebihan yang dia miliki, Cinta yang akan memiliki lebih banyak menjadikan kekurangan seseorang adalah suatu kelebihan yang dia harapkan, Maka bila kita saling mencintai, maka kedua pihak akan semakin sehat dan tumbuh dewasa serta lebih bijak dalam menyelesaikan suatu masalah, serta lebih banyak melihat persoalan dari sisi positifnya dan membuang nilai-nilai negatif dari pokok persoalan itu sendiri, maka jika hal ini sudah terlaksana pada apa yang anda cintai, saya yakin itulah “cinta yang akan anda miliki” Bila hanya salah satu yang mencintai dengan seperti apa yang saya uraikan di atas, maka si pecinta itu akan terus mengeluarkan banyak pengorbanan dan suatu saat mengalami kekecewaan saja.

Bila anda pernah mencintai seseorang, dan lalu menjadi milik orang lain. Punahkan cintamu kepadanya. Carilah sosok lain yang bisa mengimbangi cinta dan perasaan anda, dan cintailah sepenuh-penuhnya. jangan mencintai yang akan sulit anda memiliki. sebab gagal  itu sulit akan anda ulangi untuk kedua kalinya, atau milikilah apa yang bisa anda cintai , tak usahlah terus mencintai apa yang sulit anda miliki. Carilah ganti, dan kemudian cintailah apa yang kau miliki,Mencintai harusnya memiliki, setuju…?

( tulisan ini terinsfirasi di beberapa status Facebook teman )