Parkir Tanpa Karcis Sudah Menggerogoti Kota Makassar

PARKIR, semua orang pasti tau yang namanya parkir. Entah siapa yang pertama kali membuat istilah ini. Namun istilah ini menjadi tren ketika manusia berhasil menciptakan sebuah seni dan kreatifitas yang tidak lepas dari yang namanya uang, apalagi di kota -kota besar seperti makassar, tiada jalan, tiada halaman pasti ada parkir.

Parkir ini sudah merupakan suatu kebutuhan pokok si kendaraan dan sang empunya. Serta nahkoda parkir itu sendiri dengan kata lain Si Jukirnya (juru parkirnya) alih-alih parkir ini menjadi kebutuhan pokok, parkir juga bisa membuat sebal banyak orang. Terbatasnya lahan parkir menjadi rebutan setiap pengendara. Saling mendahului, saling sikut dan saling senggol sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, fenomena parkir ini menjadi menarik untuk dieksplorasi ketika bisnis berbicara. Rupiahpun jadi incaran. Parkir gratisanpun sudah jadi angan-angan, karna sulit lagi di temukan kecuali tempat yang sengaja menyediakan lahan parkir gratis, seperti toko dll. Tapi toh juga di dalamnya bisnis yang berbicara karna ada maksud dan tujuan dari parkir gratis ini. Maka dari itu jangan heran jika kendaraan anda menepi, suara alunan supritan menjadi melodi yang paling asyik di perdengarkan oleh si Jukirnya (juru parkirnya) menunggu syair rupiah dari si pengendara.

Itulah parkir sudah menjadi lahan empuk bagi sebagian orang, makanya jika punya uang pas-pasan untuk pergi berbelanja pikir-pikir dulu, kecuali anda rela jalan kaki sejauh mungkin sebab bunyi supritan terdengar di mana-mana bisa saja apa yang anda akan beli lebih banyak dari ongkos parkirnya, seperti apa yang pernah saya alami beberapa kali di makassar.

1. Saya parkir di Pettarani tepi jalan Cuma numpang kencing di masjid keluar di tagih parkir Rp.1.000. (yang artinya kencing gratis parkirnya bayar)
2. Saya parkir di pettarani lagi singgah beli air minum gelas Rp.500 di tagih parkir Rp.1.000.(artinya lebih mahal lagi parkirnya)
3. Masih di Petterani Numpang berteduh di tagih parkir lagi Rp.1.000.(berteduhnya gratis parkirnya bayar)

4. Parkir di jalan samping Mall Ratu indah Cuma tinggalkan kendaraan sebentar saja bayar parkir Rp.2.000,-

Yang parahnya lagi saya tidak pernah di suguhkan karcis sama jukirnya. Yang manjadi tanda tanya besar di mana peran PD parkir yang sesunnguhnya? apa mereka tidak ada yang naik motor/mobil sehingga tidak tau apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan. Karcis buat si jukir itu hanya jadi penghias kantong saja.

Sengaja saya tulis pengalaman ini dan saya yakin banyak yang mengalami hal yang seprti saya lamai, bukan berarti saya hitung -hitungan uang seribu rupiah, tetapi setidaknya menjadi bahan renungan untuk peran pemerintah mengontol tempat parkir ini.

2 thoughts on “Parkir Tanpa Karcis Sudah Menggerogoti Kota Makassar

  1. betul sekali bro terkadang biaya parkir lebih mahal dari apa yg ingin kita beli masih mending klo motor terurus, tpi biasanya tukang parkir muncul disaat kita mau pulang

Jadilah Orang Pertama mengomentari tulisan kami

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s