Rumah Hijau Tak Cukup Hijau Saja

Kompleks hunian  berkonsep Rumah Ramah Lingkungan atau rumah hijau makin marak. Di Makassar sendiri, konsep ini  menjadi pilihan para developer seiring dengan gong global warming. Agar calon user tertarik, pengembang melebeli perumahan yang mereka bangun dengan slogan Rumah Ramah Lingkungan, Kota Taman, Kota Hijau, Kota Pohon dsb. Dalam brosur, pun tampak jejeran rumah dikelilingi pohon nan rimbun dan taman yang asri. Lalu, cukupkah itu semua?

Menurut pengamat properti,  kompleks hunian berkonsep green property  dibangun di atas lahan yang diperuntukkan bagi kawasan hunian, bukan kawasan hijau atau daerah resapan air. Komposisi ruang terbangun dan ruang tidak terbangun  sesuai peraturan tertentu, tidak bisa ditawar-tawar lagi (koefisien dasar bangunan/KDB idealnya maksimal 70 persen sehingga tersisa koefisien dasar hijau/KDH seluas 30 persen).

Syarat lainnya, developer membangun sistem pengendalian dan pengelolaan air yang memungkinkan sisa lahan tadi terserapi  air hujan. Juga, pemakaian material yang dapat menyerap air. Masih ada lagi, pengelola rumah hijau juga hendaknya mempunyai  sistem pengelolaan sampah dan limbah (daur ulang). Penggunaan material bangunan yang mengandung oksidan atau racun, diminimalkan. Hemat energi listrik, air bersih juga adalah sesuatu yang wajib dsb.

Penggunaan material lokal juga menjadi penting bagi konsep hunian bernafas  ini. Material lokal akan lebih menyelaraskan karakter bangunan dengan lingkungan sekitar, seperti bangunan ekspos batu kali, batu bata, dan kayu untuk perpaduan kesan alami; atau semen, baja, dan kaca yang menampilkan wajah modern.

Go Green yang ideal

Komposisi antara ruang terbangun dengan ruang tak terbangun  agaknya, menjadi pilihan pertama bagi beberapa developer di Makassar. Muh Yusuf Mappasawang, Direktur Utama perusahaan pengembang Golden Hills, misalnya telah mengaplikasi rasio lahan 70-30 itu. Kompleks Golden Hills yang berlokasi di sekitar wilayah Telkomas ini, tutur Yusuf menempati tanah berkontur seluas 1,7 ha. Ketersediaan area seluas 30 persen, menurut praktisi properti, Ir Muaz Yahya akan memberi peluang terhadap rumah dan penghuni untuk bernafas lega. Sementara ruang hijau terbuka seperti yang tampak pada Golden Hills, “Dapat dikembangkan menjadi konsep taman sesuai kebutuhan penghuni, seperti taman bermain anak, taman air mancur dsb”, terang Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Makassar ini kepada Kami, di Makassar, pekan silam. Taman-taman nan menawan, itulah yang memberikan sumbangan ekologis kepada warga kota sebagai ruang terbuka hijau privat dan menjadi bagian dari ruang terbuka hijau kota.

Hunian ramah lingkungan, jelas Muaz lagi,  juga membiarkan air jatuh sebanyak-banyaknya ke dalam tanah sekitar kompleks (zero run off). Setiap unit rumah memiliki sistem saluran air bersih, air kotor, dan air limbah yang dibuat terpisah. “Air bersih dari pompa atau PAM langsung dialirkan ke bak penampung air. Biar hemat listrik sekaligus”, katanya.

Rekayasa air limbah inilah menjadi poin penting dalam konsep hunian ramah lingkungan. Pemerhati Tata Kota Universitas Hasanuddin, Ir Agus Salim menyebutkan air bekas mandi dapat didaur ulang untuk digunakan kembali menyiram tanaman atau mencuci kendaraan. Sementara air bekas cuci pakaian atau alat makan, menurut Agus, ditampung dan disaring (netralisir) kemudian diresapkan secara alami ke dalam sumur resapan air memakai filter alami. “Seperti pasir, kerikil dan ijuk.”, begitu Agus memberi contoh.

Walau begitu, peran penghuni rumah juga tak kalah pentingnya. Mengolah sampah, kata Agus Salim dilakukan dengan cara memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya (zero waste). Sisa sayuran, buah-buahan, dan makanan diolah menjadi sampah organik untuk memupuki tanaman di taman rumah. “Barang bekas pakai disisihkan untuk diberikan kepada pemulung,” saran Agus pada sebuah seminar properti di Makassar. Jadi, peran penghuni rumah juga turut menentukan dalam mendirikan rumah hijau yang tak cukup hijau saja…

Di Tulis Oleh: Ridwan Fasih Rasyik

Di Posting : Amatory

Foto: Ilustrasi

 

One thought on “Rumah Hijau Tak Cukup Hijau Saja

  1. OOW…GREAAAT….! I LOVE IT !!, Saya pribadi senang skali melihat dari jauh hunian seperti ini,”ASRI – LESTARI – AYEM – TENTRAM DAN DAMAI PENGHUNINYA ” ,ini punya nilai art ( seni) yang tinggi,Hmm…!!.bangunan nampaknya tidak mengubah contour tanah,di tunjang serrounding rmh tumbuh pohon2 nan rindang, udara segar, air pegunungan mengalir deras – ataupun air susu menetes yang tak pernah enggan memberikan penghidupan kepada mahluk hidup, suara kicau burung pun akan menghiasi tatanan rumah ini dan menghibur penghuninya,..,maka tak elak konsep rumah hijau seperti ini akan di dambakan oleh banyak orang,dia punya nilai tinggi atau nilai PLUS , baik itu kepada Arcitec,Developer atau pun Penghuninya.Dan sangat sempurna lagi apabila si empunya rumah ini mempunyai kegiatan usaha di bidang Agrobiz…wow…Amazing…!!

Jadilah Orang Pertama mengomentari tulisan kami

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s